Ruwah Desa Bejijong Digelar di Petilasan Raden Wijaya, Wujud Syukur dan Pelestarian Budaya Majapahit

by -12 Views
0-0x0-0-0#
banner 468x60

dentum.id, Mojokerto – Tradisi Ruwah Desa kembali digelar oleh masyarakat Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Kegiatan yang merupakan tradisi turun-temurun ini dilaksanakan pada 31 Februari 2026 di Siti Inggil, petilasan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.

Ruwah Desa berasal dari bahasa Jawa, yakni “Ruwah atau Ruwat” yang berarti memelihara, memperingati, dan mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan, sedangkan “Desa” berarti wilayah yang dipimpin oleh kepala desa. Tradisi ini telah diwariskan sejak masa “Sang Babat Alas atau Sing Mbangun Desa” dan masih terus dilestarikan hingga kini.

banner 336x280

Kepala Desa Bejijong, Pradana Tera Mardiatna, mengatakan bahwa Ruwah Desa merupakan wujud rasa syukur masyarakat Dusun Kedungwulan atas perjalanan hidup selama satu tahun terakhir. Rangkaian kegiatan diisi dengan kirab dari Balai Desa Bejijong menuju punden desa di Siti Inggil, dengan mengarak tumpeng berisi jajanan pasar dan buah setinggi sekitar dua meter yang dikenal sebagai sedekah bumi.

“Hari ini ada kirab menuju ke Siti Inggil dari balai desa, wujud kita untuk rasa syukur dalam satu tahun kemarin 2025 sudah melewati segala kesusahan atau masalah. Dan nanti malamnya ada wayang kulit di punden desa atau di Siti Inggil,” kata Pradana.

Ratusan Masyarakat Kedungwulan, Bejijong berkumpul di Siti Inggil untuk Ruwah Desa’.

Selain kirab, masyarakat Kedungwulan juga membawa makanan dan tumpeng-tumpeng kecil untuk disantap bersama di pendopo Siti Inggil sebagai bentuk kebersamaan dan kekeluargaan.

“Jadi kembali lagi, itu sudah budaya kita di Jawa seperti ruah desa ini kita lakukan setiap tahun satu kali. Tidak hanya itu, sesuai dengan Asta cita bapak Presiden Prabowo, program Gubernur, dan Program Bupati Mojokerto untuk tetap tidak meninggalkan budaya dan tradisi desa. Tadi kita purakan atau makan bersama di pendopo,” ucap Pradana.

Sementara itu, juru kunci Siti Inggil, Mbah Gofur, menjelaskan bahwa tradisi Ruwah Desa di Desa Bejijong telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit dan selalu dilaksanakan di Siti Inggil karena lokasi tersebut merupakan punden desa sekaligus petilasan Raden Wijaya.

“Ruah Desa disini itu yaitu untuk mendoakan, supaya desa ini menjadi makmur, subur, terhindar dari roh-roh jahat atau terhindar dari penyakit, terhindar dari mala petaka. Budaya ini sudah ada sejak jaman dahulu,” jelas Gofur.

Ia menambahkan, Ruwah Desa memiliki makna mendalam agar Desa Bejijong senantiasa diberkahi, aman, nyaman, dan masyarakatnya hidup sejahtera di masa depan.

“Mangkanya sudah desa ini di ruah dari dulu mulai dari kecil dan dibesar besarkan sampai mencapai sempurna,” tutup Gofur. (dka/cha/)

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.