Dentum Terkini
Informasi terbaru, terverifikasi, dan paling dekat dengan pembaca.
Terkini

Anak Krakatau Kembali Erupsi, Potensi Tsunami Selat Sunda Masih Jadi Perhatian

dentum.id — Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik dengan erupsi yang terjadi pada Jumat malam, 4 September 2026. Erupsi tercatat berlangsung pada pukul 23.07 WIB dan berlanjut hingga Sabtu dini hari, 5 September 2026, pukul 00.01 WIB.

Gunung api yang berada di kawasan Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra, tersebut sebelumnya pernah memicu tsunami mematikan pada 2018. Peristiwa itu terjadi setelah sebagian tubuh gunung mengalami keruntuhan dan memicu longsoran yang menggeser massa air laut.

Tsunami pada 22 Desember 2018 menghantam wilayah pesisir Banten dan Lampung. Gelombang tersebut mencapai kawasan sekitar Anak Krakatau sekitar 24 menit setelah erupsi dan menewaskan ratusan orang serta menyebabkan kerusakan cukup luas.

Aktivitas Anak Krakatau sendiri bukan kali pertama menjadi perhatian. Gunung tersebut diketahui terus mengalami aktivitas erupsi secara sporadis sejak kemunculannya dari laut pada dekade 1920-an.

Berdasarkan informasi dari laman resmi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), status aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026.
Tsunami 2018 Diduga Dipicu Longsor
Sejumlah ahli menilai tsunami yang terjadi pada 2018 kemungkinan besar berkaitan dengan runtuhnya sebagian sisi selatan Anak Krakatau. Material yang longsor kemudian diduga masuk ke laut dan menyebabkan perpindahan air dalam jumlah besar sehingga membentuk gelombang tsunami.

Seismolog GNS Science, Sam Taylor-Offord, menjelaskan bahwa pergerakan daratan di bawah air menjadi teori utama untuk menjelaskan terbentuknya tsunami tersebut.

“Teori utama adalah pergerakan daratan di bawah air,” kata Sam Taylor-Offord, seorang seismolog di GNS Science. “Jadi ketika daratan itu mendorong ke laut… itu menggeser permukaan laut sehingga menyebabkan perpindahan vertikal yang menyebabkan tsunami,” tambahnya.

Meski demikian, Taylor-Offord menyebut keterbatasan data dan akses membuat penyebab tersebut belum dapat dipastikan sepenuhnya.

Pandangan serupa disampaikan ahli geologi gempa bumi Ben van der Pluijm. Menurutnya, lereng gunung api yang tidak stabil dapat memicu longsoran batuan dalam jumlah besar dan mendorong air laut secara tiba-tiba.

“Ketidakstabilan lereng gunung berapi aktif dapat menciptakan longsoran batuan yang menggerakkan sejumlah besar air. Longsoran itu menciptakan gelombang tsunami lokal yang bisa sangat kuat. Peristiwa ini seperti tiba-tiba menjatuhkan sekantong pasir ke dalam bak mandi yang penuh air,” katanya.

Anak Krakatau dan Warisan Letusan 1883
Anak Krakatau merupakan gunung api yang terbentuk setelah letusan besar Krakatau pada 1883. Letusan tersebut tercatat sebagai salah satu erupsi paling dahsyat dalam sejarah.

Rangkaian letusan dimulai pada 26 Agustus 1883 dan mencapai puncaknya sehari kemudian. Ledakan yang sangat kuat terdengar hingga Australia, sekitar 3.500 kilometer dari Krakatau. Abu vulkanik bahkan mencapai ketinggian sekitar 80 kilometer.

Rangkaian letusan itu juga menghasilkan tsunami besar. Sekitar 36.000 orang di Jawa dan Sumatra meninggal dunia akibat tsunami yang menyusul runtuhnya gunung berapi. Gelombang terbesar dilaporkan mencapai sekitar 37 meter.
Letusan tersebut juga memuntahkan material vulkanik dalam jumlah sangat besar dan menyebabkan wilayah sekitar Krakatau mengalami kegelapan selama lebih dari dua hari. Dampaknya bahkan terasa secara global melalui perubahan atmosfer dan penurunan suhu.

Setelah aktivitas Krakatau mereda, kawasan tersebut kembali mengalami aktivitas vulkanik pada Desember 1927. Erupsi dari dasar laut kemudian membentuk kerucut vulkanik yang akhirnya muncul ke permukaan. Pada 1930, terbentuklah sebuah pulau kecil yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.

Gunung tersebut terus tumbuh selama beberapa dekade. Sebelum peristiwa 2018, ketinggiannya mencapai sekitar 318 meter di atas permukaan laut. Namun, keruntuhan tubuh gunung saat erupsi 2018 membuat ketinggiannya berkurang menjadi sekitar 110 hingga 157 meter.
Kini, aktivitas vulkanik Anak Krakatau kembali menjadi perhatian. Para ilmuwan masih meneliti potensi bahaya yang dapat ditimbulkan oleh perubahan struktur gunung api tersebut, termasuk kemungkinan longsor bawah laut.

Richard Teeuw dari Portsmouth University menilai risiko tsunami lanjutan di Selat Sunda masih perlu diperhatikan selama Anak Krakatau berada dalam fase aktif.

“Kemungkinan terjadinya tsunami lebih lanjut di Selat Sunda akan tetap tinggi selama gunung berapi Anak Krakatau masih dalam fase aktifnya. Pasalnya, hal itu dapat memicu longsor bawah laut lebih lanjut,” kata Richard Teeuw, dari Portsmouth University.

Menurut Teeuw, survei sonar diperlukan untuk mengetahui kondisi dasar laut di sekitar gunung api. Namun, pelaksanaan survei bawah laut membutuhkan persiapan yang tidak singkat dan dapat memakan waktu berbulan-bulan.
Meski risiko tersebut menjadi perhatian, tsunami yang dipicu langsung oleh letusan gunung api tergolong jarang. Salah satu contoh paling terkenal sekaligus paling mematikan adalah tsunami yang berkaitan dengan letusan Krakatau pada 1883.

Metode
Dokumen/data
Reporter

redaksi

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *