dentum.id – Hampir sebulan setelah ratusan siswa di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, mengalami dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG), kondisi Febi Yona Purba belum juga pulih. Siswi berusia 16 tahun itu masih mengalami kejang, kesulitan berbicara, dan gangguan ingatan, menurut keluarganya.

Keluarga mengaitkan berbagai keluhan tersebut dengan makanan MBG yang Febi santap pada 13 Agustus. Sejak kejadian itu, Febi menjalani pemeriksaan dan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.
Namun, keluarga belum mendapat diagnosis yang menjelaskan seluruh gangguan kesehatan Febi. Di tengah kondisi tersebut, Febi tetap ingin kembali ke sekolah.
“Aku sudah lelah sakit, Mama. Aku mau cepat sembuh biar bisa sekolah, belajar dan ketemu teman-teman.”
Kronologi Dugaan Keracunan MBG di Karo
Peristiwa itu terjadi pada Kamis, 13 Agustus. Saat itu, Febi bersama ratusan siswa lain mengonsumsi MBG yang SPPG Karo Berastagi Sempajaya salurkan.
Sebanyak 353 murid mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan tersebut. Yayasan Manunggal Kartika Jaya mengelola SPPG itu di bawah pengelolaan Kodim 0205/Tanah Karo.
Febi mengatakan makanan tersebut terasa pahit dan memiliki tekstur keras. Karena lapar, ia tetap memakannya. Setelah tiba di rumah, kondisi Febi mulai berubah. Ia mengalami gatal di seluruh tubuh, muntah, dan lemas. Tidak lama kemudian, ia mengalami kejang.
Keluarga langsung membawa Febi ke RSUD Kabanjahe. Febi menjalani perawatan selama tiga hari dan pulang pada Sabtu, 15 Agustus. Namun, masalah kesehatan itu tidak berhenti setelah Febi kembali ke rumah.
Kondisi Febi Memburuk Setelah Pulang
Dua hari kemudian, Febi kembali mengalami kejang. Keluarga lalu membawanya ke RS Efarina Berastagi.
Ayah Febi, Icu Mangihut Purba, mengatakan dokter di rumah sakit tersebut menduga ada masalah pada bagian otak. Dokter juga menyarankan keluarga membawa Febi ke rumah sakit lain karena fasilitas pemeriksaan yang tersedia belum memadai.
Keluarga kemudian membawa Febi ke RSU Haji Medan. Pada 18 Agustus, Febi menjalani perawatan intensif di Pediatric Intensive Care Unit (PICU).
Keluarga masih mencari penjelasan karena sejumlah keluhan Febi belum mendapat jawaban yang memuaskan. Icu mengatakan Febi sempat mengalami penurunan kesadaran. Selain itu, ia mengalami gangguan ingatan dan kesulitan berbicara.
Setelah menjalani perawatan sekitar satu pekan, Febi pulang. Namun, kondisi kesehatannya belum membaik. Karena itu, keluarga kembali membawa Febi ke RSUP Adam Malik Medan pada 7 September untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.
Febi Disebut Tidak Mengenali Anggota Keluarga
Ibu Febi, Elvinus Lusiana Sitanggang, mengatakan gangguan ingatan menjadi salah satu masalah yang paling mengkhawatirkan.
Menurut Elvinus, Febi sempat lupa nama teman-temannya. Ia juga tidak mengenali beberapa anggota keluarga yang datang menjenguk.
“Bibinya kalau datang, ‘Ini siapa?’ Kami kasih tahu, ‘Ini Bibi’. Adik-adiknya juga begitu,” ujar Elvinus.
Selain itu, Febi masih beberapa kali mengalami kejang dan kesulitan berbicara. Elvinus mengatakan kondisi lidah Febi membuatnya kesulitan mengucapkan kata-kata secara normal.
Perubahan tersebut terasa berat bagi keluarga. Sebelumnya, Febi dikenal sebagai siswi berprestasi dan aktif di sekolah. Ia bahkan dipercaya menjadi wakil OSIS.
Kini, Febi ingin kembali ke sekolah dan menjalani aktivitas seperti sebelumnya.
Pemeriksaan Febi di RSUP Adam Malik Masih Berlanjut
RSUP Adam Malik kembali memeriksa Febi. Humas RSUP Haji Adam Malik Medan, Rosario Dorothy Simanjuntak, mengatakan Febi sudah dua kali menjalani pemeriksaan di rumah sakit itu.
Tim dokter melibatkan spesialis gastro anak, neurologi anak, dan psikiatri. Selain itu, Febi menjalani electroencephalography (EEG) untuk mengevaluasi aktivitas listrik otaknya.
Namun, rumah sakit belum menetapkan diagnosis akhir. Dokter masih membutuhkan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui kondisi Febi secara lebih menyeluruh.
Karena itu, keluarga masih menunggu kepastian medis mengenai penyebab berbagai gangguan yang dialami Febi.
Hubungan antara konsumsi makanan dan munculnya keluhan kesehatan tersebut juga membutuhkan pembuktian medis. Keluarga dapat menyampaikan dugaan mereka, tetapi dokter harus menentukan diagnosis berdasarkan pemeriksaan serta bukti klinis dan epidemiologis.
RSU Haji Sebut Febi Mengalami Gangguan Pencernaan
Saat menjalani perawatan di RSU Haji Medan, dokter menyebut Febi mengalami gangguan fungsional saluran pencernaan atau irritable bowel syndrome (IBS) serta peradangan berat pada usus halus atau necrotizing enterocolitis.
Kabid Pelayanan Medik dan Keperawatan RSU Haji Medan, Fitrady Ulianda Siregar, mengatakan pemeriksaan saat itu tidak menemukan diagnosis terkait gangguan ingatan maupun keluhan pada lidah.
Kondisi tersebut membuat pemeriksaan lanjutan semakin penting. Keluarga melihat perubahan pada kemampuan Febi mengingat dan berbicara, sementara pemeriksaan sebelumnya belum mencatat kedua keluhan tersebut sebagai diagnosis.
Karena itu, dokter perlu menelusuri seluruh gejala untuk mendapatkan gambaran kondisi Febi secara lengkap.
Dua Siswa Lain Juga Sempat Menjalani Perawatan Intensif
Febi bukan satu-satunya siswa yang membutuhkan perawatan setelah dugaan keracunan MBG di Karo.
Krismas Dayanti Sihite (18) dan Anna Karina juga sempat menjalani perawatan intensif di PICU RSU Haji.
Krismas bahkan sempat mengalami penurunan kesadaran. Namun, kondisinya kemudian membaik dan ia sudah dapat berkomunikasi dengan baik.
Meski demikian, kejadian tersebut membuat keluarganya tetap khawatir.
Salmen Tua Sihite, ayah Krismas, mengaku takut kejadian serupa kembali menimpa putrinya. Ia bahkan berharap program MBG dihentikan karena khawatir anaknya kembali mengalami keracunan.
Dugaan Keracunan MBG Memunculkan Pertanyaan soal Tanggung Jawab
Kasus Karo juga memunculkan pertanyaan tentang keamanan makanan dalam program MBG. Penyediaan makanan dalam jumlah besar membutuhkan pengawasan pada setiap tahap. Pengelola harus memperhatikan pemilihan bahan, proses memasak, kebersihan dapur, penyimpanan, distribusi, hingga makanan sampai kepada siswa.
Satu masalah pada rantai tersebut dapat memengaruhi banyak orang. Karena itu, dugaan keracunan yang melibatkan ratusan siswa kembali menempatkan keamanan pangan sebagai persoalan penting. Jumlah porsi yang tercapai tidak cukup jika pengelola tidak memastikan makanan aman untuk dikonsumsi. Dalam skala besar, satu persoalan di sebuah dapur dapat membawa dampak lebih luas.
Rantai Keamanan Makanan MBG
Keamanan makanan membutuhkan pengawasan sejak bahan baku masuk hingga siswa mengonsumsi makanan. Pengelola juga perlu mencatat setiap tahap agar petugas dapat menelusuri sumber masalah ketika terjadi kejadian luar biasa.
Apakah Korban Dugaan Keracunan MBG Bisa Menggugat?
Korban tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa mereka dapat menggugat negara atau penyelenggara hanya karena dugaan keracunan terjadi.
Mereka membutuhkan bukti yang menunjukkan hubungan antara makanan yang mereka konsumsi dan gangguan kesehatan yang muncul.
Karena itu, bukti medis memegang peranan penting. Catatan pemeriksaan, hasil laboratorium, diagnosis dokter, rekam medis, hasil investigasi keamanan pangan, dan bukti mengenai makanan yang dikonsumsi dapat membantu menjelaskan rangkaian kejadian.
Pihak yang memegang tanggung jawab hukum atas penyediaan makanan juga perlu diketahui.
Struktur penyelenggaraan, kontrak, pengelola SPPG, standar operasional, bentuk kelalaian, dan hasil investigasi resmi dapat memengaruhi penentuan tanggung jawab.
Karena itu, publik belum dapat menyatakan bahwa negara pasti bertanggung jawab atau pasti tidak bertanggung jawab sebelum investigasi selesai.
Namun, apabila penyelidikan menemukan pelanggaran standar keamanan pangan atau kelalaian yang menimbulkan kerugian, korban dapat mempertimbangkan langkah hukum sesuai mekanisme yang berlaku.
Keluarga Febi Berharap Presiden Melihat Kondisinya
Icu mengatakan dirinya tetap mendukung program MBG. Namun, ia tidak ingin dukungan terhadap program tersebut membuat keluarga mengabaikan persoalan kesehatan yang dialami Febi.
Icu berharap Presiden Prabowo Subianto melihat langsung kondisi anaknya.
Ia ingin pemerintah memahami kondisi Febi dan tidak menganggap keluarganya mengada-ada.
Keluarga menyampaikan harapan tersebut agar pemerintah memberikan perhatian kepada korban dugaan keracunan.
Bagi keluarga, persoalan ini bukan sekadar soal program pemerintah. Mereka ingin melihat Febi kembali belajar, bertemu teman, dan menjalani kehidupan sekolah seperti sebelumnya.
Ketika Makanan Bergizi Justru Menimbulkan Kekhawatiran
Program MBG bertujuan menyediakan makanan bagi peserta didik. Namun, ketika dugaan keracunan massal muncul, perhatian langsung bergeser dari kandungan gizi ke pertanyaan mendasar: apakah makanan yang diterima anak-anak benar-benar aman?
Pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban berdasarkan sistem keamanan pangan yang jelas.
Ketika ratusan siswa mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan dari sumber yang sama, investigasi perlu menjelaskan apa yang terjadi, dari mana sumber masalah muncul jika memang terbukti, bagaimana masalah itu bisa terjadi, dan siapa yang harus memperbaikinya.
Bagi Febi dan keluarganya, persoalan tersebut terasa lebih personal.
Mereka ingin Febi kembali berbicara dengan lancar, mengenali keluarganya, dan duduk lagi di bangku sekolah.
Kalimat Febi, “Aku mau sekolah”, terdengar sederhana. Namun, keinginan itu menggambarkan harapan seorang anak yang harus menghadapi kejang, gangguan ingatan, kesulitan berbicara, dan serangkaian pemeriksaan medis.
Pada akhirnya, keberhasilan program makanan untuk anak-anak tidak hanya bergantung pada jumlah porsi yang pengelola bagikan. Pemerintah dan pengelola juga harus memastikan makanan tersebut aman sejak proses persiapan hingga anak-anak mengonsumsinya.






1 Komentar